Pengalaman Belajar Daring Selama Pandemi

Berapa hari yang lalu memori dari Google Photos muncul lagi. Kali ini mengingatkan kenangan Si Kakak mengerjakan tugas-tugas dari para guru saat pandemi menghajar dunia yang mengharuskan semua kegiatan dilakukan di rumah saja. Yup, pengalaman …

Berapa hari yang lalu memori dari Google Photos muncul lagi. Kali ini mengingatkan kenangan Si Kakak mengerjakan tugas-tugas dari para guru saat pandemi menghajar dunia yang mengharuskan semua kegiatan dilakukan di rumah saja. Yup, pengalaman belajar daring selama pandemi termasuk anak TK yang harusnya bisa belajar dan bermain di sekolah jadi ikut merasakan belajar dari rumah secara daring alias online.

Mau tidak mau, suka tidak suka, tidak ada pilihan lain lagi yang harus dijalani saat itu. Jadilah mamak pun juga harus bisa merangkap menjadi guru Si Kakak di rumah. Melewati drama-drama dari senang hingga saat anak sedang tidak mood untuk belajar atau mengerjakan prakarya yang diberikan oleh para guru sekolah melalui WhatsApp.

 

Kenangan Awal Belajar Daring

Saat pandemi datang, Si Kakak sedang duduk di TK A. Sewaktu ada penyampaian bahwa akan belajar dari rumah, doi sih santai-santai saja seperti tanpa beban. Ya, namanya juga anak TK ya. Malah kayaknya happy aja jadinya gak harus bangun pagi lalu bersiap ke sekolah. Kebetulan saat itu saya juga sudah kembali beraktivitas di rumah sejak sudah tidak bekerja lagi karena project telah berakhir. Sejak itu pula kelihatannya dia sudah mulai ogah-ogah untuk ke sekolah, lebih senang menghabiskan waktu bermain bersama kedua adiknya di rumah. Mungkin capek dan bosan karena sudah dua tahun dia ikut PAUD juga TK A.

Nah, makanya ketika saya bilang ke dia nanti akan ada tugas dari sekolah yang Kakak harus kerja di rumah dibantu oleh mama, dia happy-happy aja. Sesuai arahan pihak sekolah, saat itu tugasnya diambil ke sekolah kemudian dikumpulkan pada waktu yang ditentukan. Hampir tiga bulan berlalu dengan tidak begitu banyak drama karena tugasnya juga hanya sedikit dan hanya sebulan sekali.

Hingga ketika jelang tahun ajaran baru tiba, seharusnya Kakak masuk TK B karena saat itu usianya belum cukup untuk lanjut ke SD. Dia pun juga kelihatannya mulai bosan dengan semua ini. Saya pun menawarkan untuk mencoba sekolah di tempat baru yang kemudian disambutnya dengan senang hati. Kami pun membebaskan dia untuk memilih sekolah mana yang diinginkannya dari beberapa pilihan sekolah yang kami sodorkan padanya. Meski saat itu kita semua belum tahu hingga kapan badai pandemi itu berlangsung. Saat itu sih tentu saja kita semua berharap agar pandemi segera berakhir dan bisa beraktivitas normal seperti biasa lagi.

 

Pengalaman Belajar Daring Selama Pandemi, dari TK Hingga Masuk SD

Tahun ajaran baru pun tiba, sekolahnya pun juga berganti. Namun suasana belajar tetap sama, dari rumah. Alhamdulillah, kali ini dia kelihatannya lebih bersemangat karena di tahun ajaran yang baru ini dia tahu kalau telah pindah sekolah dan sekarang punya tiga orang guru kelas baru meski hanya bertemu melalui layar gawai saja.

Hari pertama sekolah dia semangat bangun pagi dan duduk di depan layar bertemu dengan guru-guru barunya. Melalui WhatsApp Group pun menyampaikan bahwa anak-anak akan belajar hanya 3 kali dalam seminggu. Para guru membagikan materi melalui WhatsApp dan lembar kerja siswa wajib diambil di sekolah setiap hari Senin dan disetorkan pada hari Senin pekan berikutnya saat penggantian lembar kerja yang baru.

belajar daring TK

Sebulan pertama sekolah dan belajar daring di rumah berjalan dengan lancar. Alhamdulillah untuk urusan teknis seperti kendala internet sih aman, Si Kakak pun juga masih kooperatif dalam belajar dan mengerjakan tugas. Meski butuh sedikit bujukan untuk di pelajaran menulis. Hmm, anaknya mageran untuk disuruh menulis.

Kalau untuk prakarya sih dia senang begitupun saat olahraga, saat Guru meminta untuk tunjukkan kegiatan seperti saat melompat, berlari kecil, dan sebagainya. Semua kegiatannya wajib terdokumentasikan melalui foto dan juga video kemudian kirim ke guru yang bertugas.

Begitu seterusnya hingga Si Kakak menuntaskan bangku TK B yang didampingi belajar oleh mama di rumah. Bahkan dia tidak pernah bertemu langsung dengan semua teman-teman kelasnya selama di TK, sebelumnya hanya bertemu virtual saja pada dua kali kesempatan zoom saat itu.

Masuk Sekolah Baru Lagi, Belajar Daring Lagi

Pandemi masih juga belum berakhir. Bahkan angka korban semakin menjadi saja saat itu sehingga proses pembelajaran anak sekolah pun tetap harus dari rumah saja. Si Kakak pun sudah masuk Sekolah Dasar dan terus belajar daring. Metode pemberian materi pelajaran pun juga masih sama yaitu melalui WhatsApp Group, namun kali ini semua tugas wajib setor setiap hari ke group kelas tersebut.

belajar daring SD

Hanya ada 2 orang guru yang mengajar di Kelas 1 saat itu yaitu wali kelas yang mengajar setiap hari, dan satu lagi adalah guru agama yang mengajar hanya sekali dalam seminggu. Namun bedanya, untuk pelajaran agama anak-anak belajar melalui zoom. Sedangkan untuk wali kelas saat itu hanya hitungan jari saja pelajaran berlangsung melalui zoom.

Pembelajaran secara daring ini berlangsung selama satu semester lebih yang kemudian di tengah semester berikutnya akhirnya mendapatkan izin untuk sekolah tatap muka dengan syarat yang ketat, yeaaay akhirnya sekolah tatap muka!

Drama Belajar Daring, Ramai Rasanya

Alhamdulillah sih belajar daring Si Kakak selama TK sebenarnya berjalan lancar saja. Apalagi tidak harus betul-betul duduk online sepanjang kelas. Ini satu kesyukuran juga sih pihak sekolah memilih metode seperti ini. Secara tahu sendiri dong ya mood anak TK itu seperti gimana. Eits tapi bukan berarti drama belajar daring bersama Si Kakak di TK gak ada lho ya.

Bahkan dramanya pun juga pernah datang dari Mamak sendiri yang mendampingi Si Kakak, hihih. Iyah, gimana tidak kalau Kakak lagi semangat belajar namun Mamak juga harus mengawasi kedua adiknya yang terkadang tidak bisa kompromi. Belum lagi saat Mamak buru-buru harus ngejar deadline kerjaan sebagai Mom Blogger tapi Si Kakak malah dengan sengaja kerjakan tugasnya dengan mode slow motion, fiiuuhh!

Drama lainnya ketika Si Kakak harus setor tugas membaca atau hapalan yang kemudian harus menggunakan video, terkadang kedua adiknya ribut hingga fokus Kakak pecah dan dia minta ulang lagi videonya dari awal, puk-puk Kakak.

Yaaa, begitulah pengalaman belajar daring Si Kakak selama pandemi. Bukan cuma Si Kakak saja yang belajar, Mamak pun juga jadi ikut belajar selama mendampinginya belajar daring. Dari belajar membuat prakarya hingga mengikuti pelajaran-pelajaran kelas 1 SD namun materinya sekarang jauh lebih berat dari zaman Mamak SD dua puluhan tahun yang lalu, hihihh.

Jadi semakin salut pada Parents yang bisa menerapkan Home Education pada anak-anaknya. Mereka dengan begitu sabar dan telaten termasuk merancang kurikulum terlebih untuk anak usia dini.

Nah, gimana pengalaman Temans saat mendampingi anak-anak belajar daring selama pandemi kemarin? Boleh sharing juga lho di kolom komentar.

 

Cheers,
Diah

7 thoughts on “Pengalaman Belajar Daring Selama Pandemi”

  1. Walau belum punya anak, tapi di beberapa kesempatan aku bantuin ponakan yang belajar online. Yang lucu, satu kali ponakan cowok yang SMA datang ke rumah bawa kabel dan colokan listrik. Ternyata sama gurunya dikasih tugas merangkai kabel di colokan listrik sehingga colokannya bisa terpake hehehe.

    Reply
  2. kalo masih tk, dramanya masih bisa dimaklumi. soalnya masih kecil dan sekolahnya cuma main2 aja. nah kalo udah masuk sd itu yang ribet, soalnya pelajarannya udah serius pula.

    Reply
  3. Wah, Hebat, Kak! Kadang masalah pembagian waktu ini masih ribet banget, ya. Kaya 24 jam itu berasa kurang..
    Tapi kadang drama yang kaya gitu yang bakalan di rindukan ya, Kak. Kesel gemes sendiri :v

    Reply
  4. Belum punya anak sih, Kak. Hahaa, sebatas menemani ponakan belajar daring yang memang agak tricky sih ya. Soalnya ponakanku tipe yang aktif banget dan suka bersosialisasi. Untungnya Covid19 udah berubah dari pandemi menjadi endemi ya Kak :”)

    Reply
  5. saat pandemi kemarin, Wahyu santai sekali belajarnya, dia kebanyakan main game, huhuhu. makanya saat mereka sudah masuk sekolah dan belajar lagi seperti biasanya perasaanku lega sekali

    Reply
  6. Pengalamanku mengejar anak – anak saat pelajar daring emang benar – benar menjadi pengalaman ter epik, yang biasanya agak santai, tapi pas daring harus ekstra, karena anak jadi merasa bebas karena belajar dirumah.

    Reply

Leave a Comment