Tradisi Lebaran di Kampung Halaman yang Penuh Kenangan

Gak berasa kita sudah menyelesaikan ibadah Ramadan ya, Temans Mamak. Ada perasaan sedih karena Ramadan telah meninggalkan kita dan ntah apakah tahun depan kita masih bertemu lagi dengan bulan penuh berkah ini? Namun ada rasa …

tradisi lebaran di kampung halaman

Gak berasa kita sudah menyelesaikan ibadah Ramadan ya, Temans Mamak. Ada perasaan sedih karena Ramadan telah meninggalkan kita dan ntah apakah tahun depan kita masih bertemu lagi dengan bulan penuh berkah ini? Namun ada rasa bahagia juga ya karena kita dapat berkumpul bersama keluarga besar. Terlebih bagi yang mudik akan bisa merasakan tradisi lebaran di kampung halaman. Apalagi sekarang sudah ada layanan internet cepat yang bisa menyatukan semua keluarga meski tidak sempat berkumpul bertatap muka langsung.

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Sayangnya bagi saya, meskipun punya kampung halaman tapi sangat jarang merasakan suasana mudik ke kampung halaman orang tua. Hmm, bukan tidak pernah sih tapi bisa dihitung jari dan itupun sudah lama banget dan tentunya kenangan berlebaran di kampung masih teringat dan inginnya sih lebaran di sana lagi. Namun sejak menikah malah beberapa kali ikut mudik lebaran di kampung halaman Paksuami di Raha. Di sanalah saya ikut merasakan tradisi lebaran mereka yang jauh berbeda dengan yang ada di kampung halaman saya.

Flashback saat mudik lebaran di kampung halaman sendiri di Palopo, Sulawesi Selatan, saya masih merasakan suasana kekeluargaan di kampung yang begitu kental. Mungkin karena tidak merasa roaming dengan bahasa dan juga berada di lingkungan keluarga sendiri. Jadi saya tentu enjoy melewati hari dengan mereka.

Masak Persiapan untuk Lebaran Esok Hari

Di kampung halaman saya, tradisi masak persiapan lebaran itu terasa sekali. Para tetua sudah sibuk sejak pagi sehari sebelum lebaran. Mulai dari membeli bumbu, membeli daging di pasar dan juga memotong ayam peliharaan sendiri. Makanan yang selalu saya nanti saat lebaran yaitu buras, rasanya kurang afdol kalau lebaran tak makan buras. Dan tentunya buras selalu ada di setiap rumah keluarga saya. Jadi, setiap berkunjung ke rumah keluarga yang berbeda pasti ada menu buras di atas meja.

menu lebaran keluarga Mamak
menu lebaran yang dirindukan

Untuk jadi buras, butuh waktu yang cukup lama dari mengaron beras bersama santan kemudian membungkus beras tersebut dengan daun pisang. Tidak hanya sampai disitu saja, sebab beras yang sudah dibungkus tadi masih harus diikat dengan tali kemudian butuh proses memasak yang cukup lama, bisa 4 hingga 5 jam. Lebih lama dari memasak ketupat dan masaknya itu di atas tungku lho. Jadi, kebayang dong ya gimana nikmatnya makanan khas yang satu ini. Tidak hanya memasak buras saja, menu lain pun juga harus sudah siap sedia saat malam takbiran tiba.

Oh ya tidak lupa juga menyiapkan kue-kue kering khas lebaran sebagai suguhan untuk para tamu dan keluarga yang berkunjung nanti.

Takbiran Keliling Kampung dan Bermain Kembang Api

Hal lain yang membuat saya rindu lebaran di kampung halaman karena adanya takbiran keliling kampung. Dari tua, muda hingga anak kecil pun turut meramaikan takbiran keliling ini. Dengan membawa obor mereka berkeliling kampung sambil mengucapkan takbir menyebut nama Allah. Ini juga sekaligus sebagai rasa syukur karena telah berhasil menjalani Ramadan sebulan penuh dan siap menyambut hari kemenangan. Oh ya, tidak lupa juga anak-anak akan menyambut malam takbiran dengan bermain kembang api yang tentu saja dalam pengawasan orang tua.

Salat Ied Bersama di Lapangan

Di kampung itu salatnya di lapangan, sangat jarang salat Ied dilaksanakan di dalam Masjid kecuali situasinya tidak memungkinkan seperti hujan. Nah, saat hari lebaran tiba kami akan bersama-sama berjalan kaki menuju lapangan yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Ya, namanya juga di kampung ya, semua terasa serba dekat apalagi berangkatnya bersama keluarga tersayang.

Selanjutnya setelah salat Ied berakhir, kami akan bersalam-salaman saling memaafkan. Tidak jarang ada tetes air mata haru dari pelupuk mata kami karena bahagia masih bisa berkumpul bersama dan saling memberi maaf. Selanjutnya kami kembali ke rumah untuk menyantap menu makanan lebaran yang telah siap sejak malam takbiran.

Ziarah ke Rumah Keluarga dan Makam Keluarga

Tak jarang pula sebelum kembali ke rumah, kami mampir ke rumah keluarga untuk saling berkunjung dan merasakan menu khas lebaran masing-masing. Tidak lupa juga untuk mengunjungi atau berziarah ke makam keluarga yang telah mendahului kami. Mendoakan mereka dan menjadi refleksi bagi kami untuk mengingat bahwa tak ada yang abadi dan semua akan kembali kepadaNya.

 

Tradisi Lebaran Masa Kini

Nah, itu tadi tradisi lebaran di kampung saya beberapa tahun silam. Saat di mana layanan internet provider masih jadi barang langka dan belum semua mengenalnya. Untuk komunikasi pada masa itu kami hanya mengandalkan sambungan telepon yang itu pun belum masuk ke pedesaan. Hanya warga kota saja yang bisa merasakan telepon rumah dari Telkom Indonesia kala itu. Sangat berbeda dengan masa kini yang mana hampir semua orang telah memiliki telepon pintar dan bisa berkomunikasi melalui internet.

Tidak hanya itu, kehadiran internet cepat dari internet provider IndiHome juga membawa kebahagian bagi semua. Sebab dengan internet cepat, keluarga yang tidak sempat untuk mudik pun juga tetap bisa berkomunikasi dengan lancar dan temu kangen melalui video call, berasa bisa sungkeman dengan keluarga meski jarak jauh yang memisahkan.

Sebagai provider internet terbesar di Indonesia, IndiHome dari Telkom Indonesia telah berupaya maksimal untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia agar semua bisa merasakan benefit internet cepat terlebih di masa mudik lebaran seperti saat ini. Dengan berlangganan WiFi rumah dari IndiHome, kita tidak hanya bisa berkomunikasi namun juga bisa menikmati layanan live streaming dan tontonan ratusan channel TV, serta layanan OTT terbanyak. Wah, kumpul keluarga jadi makin seru nih dengan menonton film ataupun drama pilihan keluarga.

Penutup

Setiap kita pasti punya kenangan tradisi lebaran di kampung halaman kan ya? Mamak sendiri meski hanya hitungan jari saja sepanjang hidup ini merasakan indahnya mudik ke kampung halaman sendiri, namun kenangan akan tradisi saat lebaran di kampung begitu terasa. Semoga sih suatu saat nanti Mamak bisa membawa Paksuami dan anak-anak ikut merasakan lebaran di kampung halaman Mamak. Seperti halnya beberapa tahun belakangan ini Mamak yang ikut mudik ke kampung halaman Paksuami untuk merasakan lebaran di sana.

Terbayang nanti akan merasakan keseruan lebaran di kampung halaman Mamak. Apalagi saat ini sudah ada internet cepat yang bisa menghubungkan kami semua. Jadi meski Paksu tidak mudik ke kampung halamannya dia pun nantinya tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga besar melalui video call. Tidak lupa dong membuat konten lebaran di kampung halaman biar menjadi kenangan dan diunggah ke media sosial agar setiap saat bisa melihat kembali keseruan berlebaran di kampung halaman Mamak.

Bagaimana nih cerita tradisi lebaran Temans Mamak di kampung halamannya? Pasti seru ya. Boleh banget lho cerita juga di kolom komentar.

Akhir kata, mohon maaf lahir batin buat semua. Selamat berlebaran dan berkumpul bersama keluarga ya.

 

Salam hangat,
Diah

8 thoughts on “Tradisi Lebaran di Kampung Halaman yang Penuh Kenangan”

  1. Tradisi jadi kampung saya pun mulai memudar. Tidak ada lagi orang tua yang menyuruh anak mengantarkan makanan menggunakan rantang. Yang ada sekarang itu kiriman kue kaleng dan sirup yang dibeli dari minimarket

    Reply
  2. Kadang suka kepikiran kayak apa suasana atau keadaan di daerah yang jauh di luar pulau seperti Sulawesi misalnya. Budayanya seperti apa, kebiasaan masyarakatnya juga, kulinernya, dan sebagainya.

    Pastinya adat istiadat masih terasa dan cukup kental. Berbeda dengan Jawa yang sudah terlalu sering terekspos modernisasi.

    Reply
    • Bikin rindu ya Mba suasana lebaran di kampung halaman dengan tradisinya itu, penuh kebersamaan. Enggak lupa ya untuk megabadikan momennya dengan dibuat konten, agar kenangannya nantinya masih bisa dilihat lagi. Kalau enggak sempat mudik pun ada internet ya yang memudahkan untuk berkomunikasi, walau berjauhan masih bisa terkoneksi dengan adanya internet cepatnya IndiHome.

      Reply
  3. Baca ini jadi kangen suasana lebaran di kampung halaman saat saya kecil dulu.
    Sekarang, walau lebaran mudik ke kampung halaman, suasananya terasa berbeda dibanding jaman saya kecil dulu mbak

    Reply
  4. Aku cuma numpang lahir aja nih di Makkassar. Jadi iri sama yg punya kampung halaman. Kuliner Sulawesi Selatan pastinya endez…Pengen deh nengok tanah kelahiran…

    Reply
  5. Bikin rindu ya Mba suasana lebaran di kampung halaman dengan tradisinya itu, penuh kebersamaan. Enggak lupa ya untuk megabadikan momennya dengan dibuat konten, agar kenangannya nantinya masih bisa dilihat lagi. Kalau enggak sempat mudik pun ada internet ya yang memudahkan untuk berkomunikasi, walau berjauhan masih bisa terkoneksi dengan adanya internet cepatnya IndiHome.

    Reply

Leave a Comment