Haerulla dan NAMPAH, Menabung Harapan dari Sisa-Sisa Sampah

Terik matahari siang tak menyurutkan langkah mereka. Seusai jam pelajaran, halaman sekolah di Kolaka (Sulawesi Tenggara) kembali ramai oleh tawa anak-anak yang berlarian membawa kantong bekas. Di tangan mungil mereka, setiap botol plastik dan kertas …

Haerulla dan NAMPAH, Menabung Harapan dari Sisa-Sisa Sampah

Terik matahari siang tak menyurutkan langkah mereka. Seusai jam pelajaran, halaman sekolah di Kolaka (Sulawesi Tenggara) kembali ramai oleh tawa anak-anak yang berlarian membawa kantong bekas. Di tangan mungil mereka, setiap botol plastik dan kertas yang berserakan kini punya arti baru. Bukan lagi sekadar sampah, tapi “tabungan” untuk masa depan.

Melalui program NAMPAH (Nabung Sampah), anak-anak ini belajar tentang nilai, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka menabung bukan dengan uang, melainkan dengan sisa-sisa yang dulunya dianggap tak berguna. Dari aktivitas sederhana itu, tumbuh kesadaran baru — bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari hal kecil yang menyenangkan.

Tantangan Sampah Kolaka: Antara Masalah dan Peluang

Kabupaten Kolaka bukan tanpa tantangan. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Kolaka, setiap harinya wilayah ini menghasilkan sekitar 51 ton sampah, atau lebih dari 1.500 ton per bulan.
Sebagian besar berasal dari pemukiman warga dan kawasan pasar, yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir tanpa pengelolaan optimal.

Masalah ini bukan cuma tentang kebersihan, tapi juga tentang kebiasaan. Minimnya kesadaran memilah dan mengelola sampah membuat gunungan plastik dan organik terus bertambah. Di sinilah Haerulla melihat celah — bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan kecil.

Lahirnya NAMPAH: Dari Ide Sederhana Jadi Gerakan Digital

Haerulla, warga Kolaka yang dikenal ulet dan visioner, mulai menggagas NAMPAH (Nabung Sampah) dengan gagasan sederhana: mengubah sampah jadi tabungan bernilai ekonomi. Ia percaya bahwa masyarakat, terutama anak-anak dan ibu rumah tangga, bisa ikut menjaga lingkungan jika ada manfaat langsung yang mereka rasakan.

Bermodal semangat dan empati, Haerulla mendirikan sistem yang memungkinkan masyarakat menukar sampah anorganik mereka — plastik, botol, kaleng — menjadi saldo digital atau simpanan yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

NAMPAH Kolaka
NAMPAH – sumber: nampah.com

Pada Agustus 2020, aplikasi Nampah resmi diluncurkan dan mendapat sambutan hangat, terutama di kalangan muda dan komunitas lingkungan Kolaka. ”Tujuan aplikasi ini untuk mengurangi kebiasaan buang sampah sembarangan terutama sampah plastik sekali pakai yang menjadi ancaman nyata terhadap ekosistem. Kemudian mengubah beberapa jenis sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai melalui proses daur ulang ataupun pengembangbiakan magot untuk pupuk,” kata Haerullah, 12 Agustus 2020.

NAMPAH bukan sekadar aplikasi, tapi juga gerakan sosial. Haerulla tahu, teknologi tanpa edukasi tak akan banyak berarti. Ia pun membentuk Komunitas NAMPAH, tim relawan muda yang rutin melakukan edukasi ke sekolah, rumah ibadah, dan lingkungan warga. Mereka memperkenalkan konsep bank sampah digital dengan cara yang sederhana dan dekat dengan keseharian masyarakat.

“Harga setiap sampah bervariatif dan tertera dalam aplikasi Nampah. Jadi setelah transaski, saldo nasabah akan bertambah di tabungan sampah yang ditampilkan dalam aplikasi. Saldonya bisa ditarik tunai apabila sudah mencapai nilai tertentu,” terangnya.

Melalui aplikasi NAMPAH, pengguna bisa memesan penjemputan sampah, melihat saldo tabungan, dan mencairkannya menjadi uang tunai atau kebutuhan pokok. “Kami ingin sistem ini ramah bagi semua kalangan — dari mahasiswa, ibu rumah tangga, sampai pelaku usaha kecil,” jelas Haerulla.

Perkembangan NAMPAH dan Ribuan Inspirasinya

data pengangkutan tabungan sampah ke NAMPAH
data NAMPAH Desember 2022 VS Jui 2025 – sumber: @nampah_official

Perkembangan NAMPAH kini semakin pesat. Berdasarkan data di situs resminya, aplikasi NAMPAH telah diunduh sebanyak 2103 pengguna dan memiliki lebih dari 415 nasabah aktif — mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga masyarakat umum. Tidak hanya itu, NAMPAH juga memiliki 5 Mitra dengan 1404 transaksi (18 Oktober, 2025).

Setiap nasabah punya cerita sendiri. Ada yang bisa membeli alat sekolah dari hasil tabungan sampah, ada pula yang menjadikan kegiatan ini sebagai cara mempererat hubungan antarwarga.

Haerulla tidak bekerja sendirian. Ia membangun jaringan dengan sekolah, lembaga masyarakat, dan pemerintah daerah agar konsep nabung sampah bisa terintegrasi dengan pendidikan lingkungan dan ekonomi sirkular.

“Kalau anak-anak sudah terbiasa menabung dari sampah, mereka akan tumbuh dengan kesadaran menjaga bumi,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Dalam perjalanannya, NAMPAH uga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk PT Antam UBPN Kolaka, yang memberikan dukungan logistik berupa kendaraan operasional dan pelatihan pengelolaan sampah. Kolaborasi ini membantu NAMPAH memperluas jangkauan hingga ke kelurahan dan desa sekitar.

Kini, platform NAMPAH sudah terintegrasi dengan aplikasi digital yang memudahkan proses pencatatan, penimbangan, dan penukaran saldo.

Tak hanya sekadar program lokal, NAMPAH juga menjadi bahan penelitian di berbagai perguruan tinggi. Salah satunya melalui studi “Integration of TAM and DeLone and McLean Models to Evaluate the Quality of NAMPAH Applications” yang menilai inovasi aplikasinya dalam meningkatkan literasi digital dan partisipasi masyarakat.

Menjembatani Lingkungan dan Ekonomi

semangat menabung di NAMPAH
testimoni nasabah NAMPAH – sumber: @nampah_official


Di tangan Haerulla, NAMPAH tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tapi juga sosial dan ekonomi. Ia melihat bahwa sampah sebenarnya menyimpan nilai ekonomi yang dapat menggerakkan roda kesejahteraan masyarakat bawah.


“Kalau sampah dipilah, dikumpulkan, dan dijual dengan sistem yang jelas, maka hasilnya bisa jadi tambahan penghasilan. Bahkan, bisa jadi tabungan untuk masa depan anak-anak,” ujarnya.

Beberapa nasabah NAMPAH kini rutin menabung sampah tiap minggu. Ada ibu rumah tangga yang memanfaatkan saldo tabungan untuk membeli kebutuhan harian, hingga pelajar yang menukar hasilnya untuk keperluan sekolah.

Program seperti Tong Sedekah Sampah juga dibuat untuk menyalurkan hasil tabungan kepada kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Haerulla percaya bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil. “Kalau satu keluarga bisa mengelola sampahnya dengan baik, bayangkan kalau satu kampung, satu kota, satu provinsi bisa melakukan hal yang sama,” katanya optimistis.

Tantangan dan Keteguhan

Meski sudah mendapat banyak dukungan, perjalanan NAMPAH tentu tidak mulus. Tantangan terbesar justru datang dari kebiasaan masyarakat sendiri. Edukasi tentang pentingnya memilah sampah masih harus dilakukan terus-menerus. Selain itu, logistik dan manajemen operasional — mulai dari armada pengangkut, gudang penyimpanan, hingga kemitraan dengan pengepul — membutuhkan sistem yang efisien dan biaya yang tidak kecil.

Namun Haerulla tak menyerah. Ia menganggap tantangan sebagai bahan bakar inovasi. Bersama tim kecilnya, ia terus memperbaiki fitur aplikasi, memperluas jaringan relawan, dan mencari mitra baru. “Kami bukan hanya startup, tapi gerakan perubahan. Dan perubahan itu memang butuh waktu,” ujarnya.

Dari Kolaka untuk Indonesia: Penghargaan dan Harapan

Kerja keras Haerulla akhirnya berbuah pengakuan. Pada 2024, ia menjadi salah satu penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards dari PT Astra International Tbk di bidang Teknologi.

Apresiasi SATU Indonesia Awards adalah sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada individu atau kelompok yang memiliki kontribusi positif di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan dan teknologi.

NAMPAH dinilai berhasil menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan lingkungan sekaligus membuka jalan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

Namun bagi Haerulla, penghargaan itu bukan akhir. “Ini baru awal,” katanya.
Ia bermimpi agar NAMPAH bisa berkembang ke Kabupaten lain, memperluas jangkauan hingga seluruh Sulawesi Tenggara, bahkan Nasional. Visi besarnya sederhana: menjadikan pengelolaan sampah sebagai gaya hidup baru masyarakat Indonesia.

Penutup

Gerakan NAMPAH Kolaka bukan hanya tentang mengelola sampah, tapi tentang mengubah cara pandang. Bahwa dari sisa-sisa yang dibuang, kita bisa menabung masa depan yang lebih bersih, lebih bijak, dan lebih bermakna.
#APA2025-PLM

Referensi:

  • https://nampah.com
  • Instagram: @nampah_official
  • https://seputarkolaka.id/melihat-kesemrawutan-pengolahan-sampah-di-kolaka
  • https://kolakaposnews.fajar.co.id/2020/08/13/mahasiswa-usn-ciptakan-aplikasi-pengubah-sampah-jadi-uang

Leave a Comment